Beranda > berita > Darah Salafy tertumpah untuk membela kaum Muslimin ( Nu,Muhammadiyah,dll) di Ambon

Darah Salafy tertumpah untuk membela kaum Muslimin ( Nu,Muhammadiyah,dll) di Ambon

Para Ikhwan  yg kini mendominasi tingkat militansi dalam pembelaannya terhadap penindasan kaum muslimin.

Kisah Nyata Abdul Hamid Mendamba Gelar Syuhada’

63Mei 2000. Suasana Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ambon yang dikelilingi hutan rimbun menimbulkan perasaan mencekam bagi siapa saja yang pertama kali berkunjung. Terlebih dalam suasana berkecamuknya perang antara masyarakat muslim dan kristen, kesan mencekam semakin kuat.

Saat itu, sekelompok anak muda yang tergabung dalam barisan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jamaah ditempatkan di kawasan tersebut. Kedatangan mereka ke kota Ambon dari berbagai daerah di Indonesia adalah dalam rangka membantu saudara-saudara seagama akibat diperangi oleh kristen.

Sebagaimana lazimnya manusia, para Laskar Jihad muda itu juga punya perasaan was-was menghadapi medan yang terkesan angker dan sunyi. Minimnya penduduk di sekitar kompleks kampus menambah suasana makin mencekam. Ancaman serangan kristen yang belum bisa diprediksikan membuat kewaspadaan senantiasa tinggi.

Di dalam rombongan itu terdapat seorang anak muda berumur 21 tahun bernama Abdul Hamid. Postur tubuhnya kurus tapi semangatnya tinggi menyala. Keberaniannya mengalahkan teman-teman sekelompoknya. Situasi kompleks STAIN yang sepi mencekam tidak membuat nyalinya ciut. Dijelajahinya hutan rimbun di sekitarnya untuk mengenali medan atau sekedar mencari buah-buahan. Kebiasaannya berkelana sendirian itu rupanya telah menjadi kesukaan, meski untuk itu ia harus sering ditegur komandannya.

Dibanding teman-temannya, Abdul Hamid memang lain. Orangnya ulet dan suka bekerja keras. Waktunya tidak mau terbuang dengan sia-sia. Hari-harinya dilalui dengan berbagai aktivitas yang bisa memberikan manfaat bagi dirinya dan orang lain.

Abdul Hamid lahir dan besar di Semarang. Sebelum berangkat berjihad ke Maluku, ia adalah karyawan sebuah perusahaan mebel di Jepara. Setiap minggu ia sempatkan pulang ke kotanya agar bisa mengikuti majelis taklim yang diadakan teman-temannya.

Saat muncul seruan jihad ke Maluku, Abdul Hamid termasuk salah satu pemuda yang langsung menyambutnya. Posisi kerjanya yang sudah lumayan di perusahaan mebel langsung ditinggalkan karena ia harus mempersiapkan diri sebelum berangkat. Bersama teman-temannya di Semarang, ia giat melakukan persiapan fisik dan segala sesuatunya untuk keperluan berangkat berjihad.

Di dalam berbagai kegiatan itu, ia berkenalan dengan seorang anak Sunda bernama Royyan. Mungkin karena ada kemiripan wajah, Abdul Hamid langsung merasa cocok dengan Ahmad  Royan dan langsung akrab. Saking akrabnya sampai Royyan dianggapnya sebagai adik.

Selama melakukan persiapan jihad, Abdul Hamid ditunjuk menjadi salah satu komandan regu. Sebagai komandan, terlihat sifat Abdul Hamid yang sangat mengutamakan teman-temannya. Dalam berbagai urusan, ia lebih dulu memperhatikan temannya, baru kemudian dirinya. Ia juga seorang yang sangat suka memberikan nasehat. Bila ada temannya yang berbuat kesalahan, langsung ia menegurnya.

Semangat juangnya yang tinggi terlihat dari keinginannya yang kuat agar bisa menjadi syuhada. Ia sangat bersyukur di Indonesia ada kesempatan untuk berjihad. Bagi Abdul Hamid, ini adalah kesempatan langka. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Menurutnya, ini adalah kesempatan untuk bisa meraih kehidupan mulia di sisi Allah.

 

 

Ketika tiba di Ambon, keinginannya untuk bisa menjadi syuhada semakin kuat. Di malam hari, ia selalu berdoa agar keinginannya dikabulkan Allah.  Di siang hari, ia habiskan waktunya untuk mengerjakan berbagai tugas yang dibebankan padanya.

Beberapa hari tinggal di STAIN, pecah perang di kampung Ahuru. Sebagian Laskar Pos STAIN dikirim untuk membantu muslimin Ahuru menghadapi serangan kristen. Termasuk yang dikirim ke Ahuru adalah Royyan. Sementara Abdul Hamid diperintahkan untuk tetap tinggal. Sampai malam, rombongan belum pulang. Abdul Hamid sangat gelisah mengkhawatirkan nasib Royyan. Ia tidak sabar menunggu rombongan pulang dan memutuskan untuk mencari Royyan.

Pencarian Abdul Hamid akhirnya sampai ke Ahuru. Padahal perjalanan ke Ahuru harus melewati jalanan sunyi, kanan kiri hutan, listrik mati, sepanjang kurang lebih 3 km. Sampai di Ahuru, suasana sangat gelap. Abdul Hamid terus mencari Royyan sambil memanggil namanya. Royyan yang saat itu sudah tertidur karena kelelahan, sayup-sayup mendengar namanya dipanggil. Ia bangun dan segera menemui orang yang memanggilnya. Abdul Hamid sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan saudaranya itu.

Setelah kurang lebih sebulan berada di Ahuru, Abdul Hamid dan Royyan beserta sejumlah Laskar lainnya dipindah ke kampung Diponegoro. Sebuah kampung yang posisinya terjepit diantara perkampungan kristen. Untuk masuk ke kampung tersebut harus lebih dahulu melewati pemukiman kristen Air Mata Cina. Meski ada aparat keamanan, saat melewati daerah tersebut tetap harus hati-hati karena tidak jarang diganggu oleh kristen. Di medan baru ini Abdul Hamid mendapat tugas sebagai kurir.

 

Selain menjalankan tugasnya sehari-hari, Abdul Hamid mengisi waktunya dengan kegiatan ibadah yang makin menguatkan mentalnya. Semangatnya untuk meraih gelar syuhada semakin menyala. Setiap pagi, ia dan Royyan saling menyetorkan hafalan Al Quran. Keduanya saling mengingatkan bila ada temannya yang lupa dengan hafalannya.

Pada akhir bulan Juli 2000, situasi kampung Diponegoro tegang. Pertempuran seru dengan pihak kristen tidak bisa dielakkan setelah sebelumnya massa kristen yang berada di sekitar Diponegoro melakukan penyerangan. Selama kurang lebih seminggu perang berlangsung.

Meski tugasnya sebagai kurir, Abdul Hamid tidak mau ketinggalan dalam peperangan. Bahkan ia selalu berada di posisi terdepan diantara teman-temannya. Dalam sebuah pertempuran, ia dan seorang temannya bernama Burhan mencoba merangsek ke daerah musuh. Saat itu ia sudah jauh meninggalkan teman-temannya. Desingan peluru yang jatuh di sekitar tubuhnya tidak menjadikan langkahnya surut.

Saat itu, ia telah mencapai sebuah rumah kosong milik kristen. Seperti biasa, ia hanya membawa jerigen berisi minyak dan korek api. Tugasnya memang sebagai pasukan bakar-bakar. Ia lebih dulu mencapai rumah kosong, sementara Burhan berada di belakangnya. Desingan peluru berhamburan ke arah dua mujahid muda itu. Burhan yang berada di belakang Abdul Hamid menyembunyikan dirinya di sebuah perlindungan, bersiap menyusul Abdul Hamid. Abdul Hamid memberi aba-aba kepada Burhan agar berhati-hati.

Dalam suatu kesempatan yang dirasa aman, larilah Burhan menuju tempat Abdul Hamid.  Namun tanpa diduga, seorang sniper rupanya telah mengincarnya. Sebuah peluru datang dari arah samping dan langsung menembus tubuh Burhan.

Melihat temannya kena, Abdul Hamid segera berusaha menolongnya. Saat itu beberapa kaum muslimin sudah berada di dekat mereka. Dibantu beberapa kaum muslimin, Abdul Hamid mengangkat tubuh Burhan. Desingan peluru masih mewarnai proses evakuasi itu.

Tubuh Burhan berhasil diangkat ke tempat yang aman. Di pangkuan Abdul Hamid, akhirnya Burhan meninggal karena lukanya cukup parah. Darahnya mengalir membasahi tubuh Abdul Hamid. Sore itu juga, jenazahnya dimakamkan di kampung Diponegoro.

Kepergian Burhan tidak membuat Abdul Hamid sedih. Ia justru iri, mengapa bukan ia yang dipilih Allah untuk gugur di jalannya. Dalam setiap pertempuran, ia selalu berada di depan, namun ternyata bukan ia yang dipilih Allah. Kepada beberapa temannya, ia mengatakan, “Mengapa bukan saya yang kena?”.

Esok harinya pertempuran kembali berkecamuk. Seperti biasa, Abdul Hamid berada di posisi terdepan. Dalam suatu kesempatan, seorang muslimin terkena tembakan di bagian perutnya. Ia berada di dekat Abdul Hamid. Beberapa orang yang ada belum berani menolong orang tersebut karena desingan peluru begitu deras.

Abdul Hamid rupanya tidak sabar untuk segera menolong orang itu. Dibukanya bajunya dan didekatinya orang itu. Diulurkannya bajunya ke arah orang itu agar ia bisa menarik orang itu ke tempat aman. Qadarullah, sebuah peluru datang dan tepat mengenai kepalanya. Tubuh Abdul Hamid roboh dan langsung meninggal di tempat kejadian.

Akhirnya, anak muda bertubuh kurus itu mendapatkan apa yang begitu didambanya.

Beberapa hari setelah kematian Abdul Hamid, pertempuran mulai reda. Hanya ada sedikit gangguan dari sniper-sniper pengecut yang mencoba membidik kaum muslimin. Secara umum pertempuran Diponegoro dimenangkan kaum muslimin. Kampung-kampung di sekitar Diponegoro seperti Air Mata Cina, Pohon Pule, dan Mangga Dua berhasil dihancurkan kaum muslimin. Sampai kini, kampung Diponegoro yang kecil dan terjepit masih ada dan kehidupan kaum muslimin berjalan dengan normal. Sejumlah Laskar Jihad masih setia menjaga kampung ini bersama kaum muslimin setempat. Di kampung yang kecil dan terjepit ini, tiga orang Laskar Jihad telah gugur. Satu diantaranya adalah seorang anak muda yang begitu bersemangat untuk meraih syuhada, Abdul Hamid. Selamat jalan teman, semoga Allah menempatkan kalian di jannah-Nya. Amin. (ai)

Sumber: Tabloid Laskar Jihad Edisi 16

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya…” (Ali ‘Imran: 169-70)

Sumber : http://kaahil.wordpress.com/2012/03/02/darah-salafy-tertumpah-untuk-membela-kaum-muslimin-numuhammadiyahdll-di-ambon-kisah-nyata-abdul-hamid-mendamba-gelar-syuhada/

Kategori:berita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: