Beranda > Artikel > Jangan merasa benar sendiri

Jangan merasa benar sendiri

Banyak orang ketika anda tegur kesalahan yang  ia lakukan berkilah

dengan mengatakan : “sudahlah, jangan merasa benar sendiri !”

sehingga menjadi pertanyaan pada benak banyak orang, apakah

perkataan tersebut berasal dari wahyu ataukah hanya sebatas  kilah

yang tak beralaskan pada dalil ? Tentunya hal ini harus kita cermati

secara seksama dengan hati yang dingin apakah ada ayat atau hadits

atau pendapat para ulama yang mengatakan dengan perkataan tersebut.

Cobalah kita buka surat An-Nisaa : 59

“Artinya : Jika kamu berbeda pendapat tentang suatu perkara maka

kembalikanlah  kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rosul (assunnah) jika

kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian..”

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa setiap perselisihan wajib

dikembalikan kepada Allah dan RosulNya, Allah tidak  mengatakan :

“Jika kamu berselisih janganlah kamu merasa benar sendiri, atau

kembalikan pada pendapat masing-masing. Akan tetapi Allah menyuruh

untuk mengembalikannya kepada Al Qur?an dan sunnah, ini menunjukkan

bahwa yang benar hanyalah yang berdasarkan Al Qur?an dan sunnah”

Para sahabat senantiasa menyalahkan orang-orang yang mereka pandang

salah dan tidak pernah diantara mereka yang mengatakan, “jangan

merasa  benar sendiri !”

Seperti dalam suatu kisah yang diriwayatkan oleh Al-Lalikai dalam

kitab Syarah I?tiqod Ahlissunnah dengan sanad yang shohih dan

Addarimi dalam sunannya bahwa Ibnu Mas?ud mendatangi suatu kaum yang

berdzikir berjama?ah dengan memakai kerikil dan berkata :?Celaka

kamu Umat Muhammad betapa cepatnya kebinasaan kalian?.apakah kamu

merasa diatas millah Muhammad ataukah kamu hendak membuka pintu

kesesatan ? kemudian mereka berkata : “sesungguhnya kami

menginginkan  kebaikan” . Beliau berkata : “Berapa banyak orang yang

menginginkan kebaikan tapi ia tidak mendapatkannya (karena caranya

salah, pen)”. dalam kisah tersebut tidak dikatakan : jangan kamu

merasa benar sendiri.

Demikian pula para Tabi?in, disebutkan dalam kisah yang diriwayatkan

oleh Al Baihaqi dalam sunannya,Abdurrozaq, Ad Darimi dan Ibnu Nashr

bahwa Sa?id bin Musayyib melihat seorang laki-laki sholat setelah

terbit fajar lebih dari dua roka?at lalu Sa?id melarangnya,

kemudian  orang itu berkata : ? wahai Abu Muhammad, apakah Allah

akan mengadzab saya gara-gara sholat ? beliau menjawab ?Tidak, tapi

Allah akan mengadzabmu karena menyalahi sunnah?. Tidak pula

dikatakan padanya : jangan merasa benar sendiri.

Demikian pula Tabi?ut Tabi?in dan para ulama setelahnya. Senantiasa

mereka membantah pendapat yang mereka pandang lemah atau salah tapi

tidak ada satupun dari mreka yang mengatakan “jangan merasa benar

sendiri”. Disebutkan dalam kisah yang shohih bahwa Imam Asy Syafi?i

mendebat Imam Ahmad dalam masalah hukum orang yang meninggalkan

sholat, dimana Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang meninggalkan

sholat kafir murtad dari agama Islam sedangkan Imam Asy Syafi?i

tidak mengkafirkannya, tapi Imam Asy Syafi?i tidak pernah

mengatakan : “jangan merasa benar sendiri”  tapi yang dikatakan oleh

Imam Asy Syafi?i adalah : “Tidaklah aku berdialog dengan seorangpun

kecuali aku berkata : Ya Allah alirkanlah kebenaran pada lisan dan

hatinya, jika kebenaran itu bersamaku,ia mau mengikutiku dan jika

kebenaran itu ada padanya, aku akan mengikutinya”.

Mereka juga menulis kitab-kitab bantahan terhadap bid?ah dan

kesesatan, Imam Ahmad menulis kitab Arrodd alal Jahmiyyah (bantahan

terhadap Jahmiyyah), Abu Dawud punya kitab Arrodd ?alal qodariyyah

(bantahan terhadap Al Qodariyyah), Ad Darimi menulis kitab Roddu

Utsman Ad Darimi ?ala Bisyir Al Marisi Adl Dlooll (bantahan Utsman

Ad Darimi terhadap Bisyir Al Marisi yang sesat) dan banyak lagi

kitab-kitab bantahan lainnya.

Tidak ada satupun diantara mereka yang

berkata : “jangan merasa benar sendiri”. Coba anda renungkan

perkataan  Abu Isma?il Abdullah bin Muhammad Al Anshori “Pedang

dihadapkan kepadaku sebanyak lima kali bukan untuk menyuruhku agar

keluar dari keyakinanku, akan tetapi  dikatakan kepadaku : “Diamlah

dari orang yang menyelisihmu !! aku tetap menjawab “Aku tidak  akan

pernah diam ..”

Merasa benar adalah fitrah manusia, buktinya jika engkau bertanya

kepada orang yang mengatakan “Jangan merasa benar

sendiri”  : “Apakah anda merasa benar dengan perkataan tersebut ?

tentu ia berkata : “Ya”, Dia sendiri merasa benar sendiri dengan

pendapat tersebut lalu ia melarang orang lain merasa benar sendiri,

jelas ini kontradiktif yang fatal.

Meluruskan Pemahaman

Sebagian orang ada yang berdalil dengan sebuah kisah yang

diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim bahwa Nabi shalallahu ?alaihi

wa sallam bersabda : “Janganlah kamu sholat kecuali di Bani

Quroidzoh, kemudian ditengah jalan masuk waktu ashar, maka sebagian

mereka berkata “Kita sholat disana”. Sebagian lagi berkata : “Kita

sholat dijalan, beliau tidak bermaksud demikian”. Lalu disebutkan

hal itu kepada Nabi shalallahu ?alaihi wa sallam tapi beliau tidak

mencela seorangpun dari mereka.

Al Hafidz ibnu Hajar dalam fathul Bari (7/409-410)

berkata,  “Berdalil dengan kisah ini untuk mengatakan bahwa setiap

mujtahid itu benar adalah pendalilan yang tidak jelas, hadist ini

hanya menunjukkan bahwa beliau tidak mencela orang yang memberikan

kesungguhan untuk berijtihad”. Hal ini menunjukkan kepada dua

perkara:

Pertama : Pendapat yang mengatakan bahwa setiap mujtahid itu benar

adalah pendapat yang bathil, karena Nabi shalallahu ?alaihi wa

sallam dalam hadist ijtihad (yaitu hadits: “Apabila Hakim berijtihad

kemudian benar maka ia mendapat dua pahala dan apabila salah maka ia

mendapatkan satu pahala”). Beliau shalallahu ?alaihi wa sallam hanya

menyebutkan benar atau salah tidak mengatakan bahwa dua-duanya

benar.

Kedua : Bahwa perkara ini khusus para mujtahid, adapun bila telah

nyata bahwa mujtahid itu salah dalam ijtihadnya maka haram kita

mengikuti kesalahannya tersebut.

Sebagian lagi ada yang berhujjah dengan hadits : “Perselisihan umatku adalah rahmat”.

Padahal hadist ini dinyatakan oleh para ahli hadits sebagai hadits

yang tidak ada asal usulnya. lihat silsilah dlo?ifah I/76-85) Ibni

Hazm berkata : ? ini adalah perkataan yang sangat rusak, sebab jika

perselisihan itu rahmat berarti persatuannya adalah adzab, jelas ini

tidak akan di katakan oleh seorang muslimpun, karena tidak ada

kecuali berselisih atau bersatu ” (Al Ihkamul fi ushulil fiqih

4/64).

Bahkan secara  akalpun pernyataan bahwa ikhtilaf  (perselisihan)

adalah rahmat adalah bathil, sebab kita semua tahu bahwa tujuan

musyawarah adalahlah untuk mencari mufakat, bila perselisihan itu

rahmat, maka seharusnya musyawarah tujuannya adalah  supaya

berselisih karena ia adalah rahmat. Dan ini jelas batil bagi orang

yang berakal.

Sebagian lagi ada yang berkata :?Sudahlah selama itu masih di

perselisihkan oleh para ulama tidak perlu kita merasa benar sendiri,

sehingga perselisihan ulama dijadikan hujjah untuk membolehkan

pendapatnya, padahal Allah subhanahu wata’ala menyuruh kita untuk

mencari pendapat yang lebih dekata kepada Al Qur?an dan As  sunnah.

Pendapat ini telah disanggah oleh para ulama di antaranya adalah

Imam Ibnu Abdil Barr, beliau berkata “Perselisihan ulama bukan

hujjah menurut seluruh para ulama yang kami ketahui” (Jami ul bayan

2/229)

Al Khaththabi berkata : “Ikhtilaf ulama bukan hujjah tapi

menjelaskan sunnah adalah hujjah dari zaman dahulu sampai sekarang?.

(A?lamul Hadits 3/2092).

Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak boleh seorang pun berhujjah dengan

pendapat seseorang dalam perkara yang masih di perselisihkan, karena

hujjah itu hanyalah nash,ijma dan dalil yang diambil dari keduanya,

bukan diambil dari pendapat ulama karena pendapat ulama dijadikan

hujjah bila sesuai dengan dalil syari?at dan tidak boleh dijadikan

hujjah untuk menolak dalil syari?at ?. (Majmu fatawa 26/202-203).

Demikian pula para ulama ushul fiqih telah membahas suatu bab ilmu

ushul fiqih yang bernama bab Tarjih yaitu tata cara memilih pendapat

yang paling kuat,bila sebatas perselisihan ulama  dapat dijadikan

alasan  tentulah pembahasan maslah tarjih tidak akan ada manfaatnya.

Bahkan berhujjah dengan perselisihan para ulama pada zaman

sekarang di gunakan oleh aliran sesat yang bernama JIL (Jaringan

Islam Liberal) dimana mereka selalu membawakan pendapat ulama yang

sesuai dengan seleranya. Hal ini menunjukkan bahwa berhujjah dengan

perselisihan ulama adalah membuka pintu bagi orang-orang sesat untuk

berkilah dan membenarkan pendapatnya. Sungguh benar perkataan

seorang ulama salaf : ” Barang siapa yang mencari-cari rukhsoh para

ulama ia akan menjadi zindiq”.

Jadi merasa benar dengan pendapatnya yang jelas dalilnya lebih-lebih

bila didukung oleh ijma ulama adalah sebuah keharusan sedangkan

merasa benar dengan kesesatan adalah kesalahan fatal. Adapun dalam

perkara ijtihadi yang tidak ada dalilnya yang gamblang maka kita

ikuti yang paling kuat dalilnya tanpa menyesatkan yang lainnya.

Wallahu alam.

Ditulis Oleh
Abu Yahya Badrussalam Lc
Rujukan
Zajrul Matahawin
Ilmu Ushul Bida?,
Majmu Fatawa dll. 
Diketik ulang dari Buletin At-Tauhid.
Kategori:Artikel
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: